Yang Tercecer #7 – Si Pembelit Lidah
Dalam terjemahan saya, saya menemukan kalimat berikut ini:
How much wood would a woodchuck chuck if a woodchuck could chuck wood?
Ini bukan permainan kata, melainkan apa yang bisa disebut sebagai “tongue twister” atau “pembelit lidah”. Di Google, banyak sekali contoh pembelit lidah semacam ini, termasuk kalimat di atas.
Karena dalam terjemahan saya pembelit lidah ini hanya disinggung satu kali dan tidak punya makna khusus selain sebagai lelucon, saya memutuskan tidak menerjemahkannya. Saya meramban situs-situs web tentang pembelit lidah, seperti tautan ini, lalu memilih yang lucu menurut saya.
Kenapa kuku kaki koki kakekku kaku kayak kuku kaki kakak kakekku?
Moga-moga yang baca pun merasa lucu.
Yang Tercecer #6 – coba hitung kata “saya”
Tugas pertama saya ketika menjadi editor in-house adalah menyunting sebuah buku panduan mandiri (self-help). Ada sebuah kalimat yang teks aslinya begini:
Once I became aware of how much I resented people with money, I became aware of how much that resentment was holding me back in my own pursuit of wealth.
Hmm… terjemahannya udah bagus, jadi tidak saya apa-apakan lagi:
Begitu saya menyadari betapa besar kebencian saya terhadap orang-orang berduit, saya sadar bahwa kebencian itu menghambat saya dalam mengejar kekayaan saya sendiri.
Yang Tercecer #5 – it’s one thing… but it’s another thing…
Saya menemukan kalimat ini dalam buku remaja yang sedang saya terjemahkan:
“She’s right,” Tony said. “It’s one thing to act in self-defense, but it’s another thing to kill.”
Bisa saja saya menerjemahkannya seperti ini:
“Dia benar,” kata Tony. “Membela diri adalah suatu hal, tapi membunuh adalah hal lain.”
Dalam www.macmillandictionary.com, penjelasan untuk “it’s one thing to… it’s another/a different thing to…“ (dan frasa sejenis lainnya) adalah: used for comparing two things when the second is much more important, serious, difficult etc than the first. Karena itu, terjemahan di atas sah-sah saja. Tapi, ketika sedang meriset kemungkinan terjemahan kalimat dengan frasa tersebut, saya menemukan banyak sekali variasi. Contohnya: Baca Lanjutannya…
Yang Tercecer #4 – scent like a hound
Saya menemukan kalimat ini dalam teks yang saya terjemahkan:
Ben wrinkled his nose. He could scent like a hound.
Konteksnya, Ben sedang berburu di hutan dan mencium bau sesuatu. Saya menemukan beberapa alternatif untuk terjemahannya:
Ben mengerutkan hidung. Dia dapat mencium setajam anjing.
Ben mengerutkan hidung. Penciumannya memang setajam anjing.
Hidung Ben berkerut. Penciumannya memang setajam anjing.
Sepertinya tidak ada yang salah dengan ketiga alternatif di atas. Tapi kemungkinan saya memilih yang kedua. Tidak ada alasan khusus sih, tapi yang pertama terlalu mengikuti struktur bahasa Inggrisnya, padahal kalimat ini kelihatannya menegaskan kemampuan indra pencium Ben. Sementara yang ketiga, seolah Ben tidak sengaja mengerutkan hidungnya. Atau ada alternatif lain yang lebih baik?
Yang Tercecer #3 – Pergi, ngabur, ngacir, minggat!
Saya lagi hobi berat baca buku-buku Lima Sekawan-nya Enid Blyton yang kini dicetak ulang Gramedia dengan cover baru (alasan utama saya beli lagi juga karena covernya yang lucuuu banget). Nah, di “Dalam Lorong Pencoleng”, saya ketemu kalimat begini:
“Ayo pergi! Mengerti, tidak? Pergi, ngabur, ngacir, minggat!” tukas Dick galak. Tapi Yan cuma melongo.
Versi Inggrisnya seperti ini:
“Clear out now! Understand? Get away, go, run off, vamoose, bunk, scoot!” explained Dick sternly. Yan stared.
Terjemahan yang oke banget. Terima kasih buat Bpk Agus Setiadi alm. yang selalu membukakan mata saya untuk rajin mencari kata dan istilah yang terbaca wajar.
Komentar Terakhir